Cacing pita diperkirakan telah tumbuh cukup lama di usus pasien.
Panjangnya mencapai 2,8 meter.
Agar bisa diambil gambarnya, Singapore General Hospital’s (SGH) telah melipat cacing itu 18 kali seperti yang terlihat dalam gambar.
Meskipun demikian, pasien awalnya tidak menunjukkan tanda-tanda parasit itu tumbuh di tubuhnya.
“Pasien agak ngeri saat cacing itu keluar dari rektum (organ terakhir dari usus besar), kata Hsu Li Yang, ahli penyakit menular.
Dilansir dari The Coverage pada Minggu (28/1/2018) menurut Washington Post, pada awal bulan ini, seorang pria yang berusia 30 tahun yang makan ikan mentah hampir setiap hari menemukan cacing pita sepanjang 1,6 yang keluar lewat anusnya.
Ia mengalami kram perut dan diare berdarah setelah makan salmon sashimi.
Cacing pita itu terus keluar dari anusnya.
Lalu ditarik keluar dari tubuhnya hidup-hidup dan bergerak.
Profesor Hsu mengatakan, cacing yang berukuran 2,8 yang ditemukan di pria Singapura itu merupakan cacing pita karena tidak ada parasit pada manusia yang bisa tumbuh sedemikian lama.
Sebuah cacing pita dewasa memiliki kepala, leher dan rantai segmen yang disebut proglottids.
Selama infeksi usus, kepala cacing pita menempel pada dinding usus, dan proglottida tumbuh dan menghasilkan telur.
Sebagain besar orang bisa terinfeksi cacing pita karena makan daging babi, sapi, atau ikan yang tidak matang.
Menurut SGH telur cacing pita itu mirip cacing pita yang terdapat pada ikan.
Prof Hsu menyatakan, bisa jadi infeksi cacing pita telah meningkat selama bertahun-tahun di Singapura.
Serupa dengan situasi di negara maju lainnya di mana konsumsi ikan mentah terus meningkat.
Namun, dia tidak memastikan karena tidak ada yang data yang dicacat dan orang-orang yang terinfeksi mungkin tidak memiliki gejala apapun.
Menurut Agri-Food and Veterinary Authority (AVA), 84.027 ton ikan telah dikonsumsi pada 2016.
Prof Hsu hanya mengetahui dua kasus cacing pita tahun lalu.
Parasit umum yang ditemukan dalam makanan laut, seperti cacing gelang dan sejenis cacing pipih.
Menurut National University Hospital (NUH) cacing terpanjang yang pernah dilihatnya sejauh ini adalah cacing pita sepanjang 1 meter 5 tahun lalu.
NUH melihat sekitar 2-3 kasus cacing per tahun.
Dr. Jolene Oon, konsultan divisi penyakit menular mengatakan, kasus ini mungkin termasuk cacing lain, seperti cacing tambang yang disebabkan oleh praktik sanitasi yang buruk di luar negeri dan bukan karena memakan makanan mentah.
Sementara itu Dr Goh E. Shaun, seorang konsultan di Raffles memberi contoh kasus semacam itu beberapa bulan lalu yang terjadi pada pasangan yang makan pan-seared tuna dari restoran Italia setempat.
“Mereka mengalami ruam, perutnya tidak nyaman, muntah, diare. Keduanya dirawat di UGD dan sembuh dalam beberapa jam,” terangnya.
Menurutnya sangat sulit mendeteksi dengan mata telanjang ada ikan mentah yang terkontaminasi.
Prof Hsu mengungkapkan hanya Koki berpengalaman dan pemasok ikan yang bisa mendeteksi adanya parasit dalam daging ikan.
Dr. Leong Hoe Nam, seorang dokter penyakit menular di rumah sakit Mount Elizabeth Novena Hospital mengatakan, mengetahui sesuatu pada makaman mentah di Singapura sangat rendah.
“Tetapi perhatikan kebersihan dan jangan makan ikan mentah jika kekebalan tubuh sedang kurang baik,” katanya.
(Tribunnews/Vika Widiasuti)
Mohon Klik ‘Suka’ atau gambar Jempol diatas, agar selalu dapat Berita terbaru. Jangan Lupa Bagikan

